- 31 Agustus 2020

Kostratani, Babak Baru Pembangunan Pertanian

Kostratani, Babak Baru Pembangunan Pertanian
  Dukumen Foto News Analisa
Penulis
|
Editor

Selepas dilantik menjadi pucuk pimpinan di Kementerian Pertanian pada periode kedua oleh Presiden Joko Widodo bersama Prof. KH. Ma’ruf Amin, Syahrul Yasin Limpo (SYL) langsung tancap gas. Beberapa gebrakan dilakukan dalam memajukan sektor pertanian Indonesia untuk lima tahun ke depan.  Diantara program jangka pendek SYL adalah satu data (single data) dalam pembangunan pertanian, membangun Komando Strategis Pertanian (Kostratani) hingga tingkat kecamatan, menjamin ketersediaan komoditas pangan strategis, perbaikan konsep Asuransi dan Inisiasi Bank Pertanian dan terakhir penguatan manajemen pembangunan pertanian melalui sinergisitas dengan kementerian dan lembaga.

Diantara lima program jangka pendek tersebut, pembenahan data base menjadi target awal SYL dalam membangun sektor pertanian kedepan. Data mencerdaskan bangsa. Begitu slogan yang kerap terpampang pada baliho Badan Pusat Statistik (BPS). Menuju satu data dalam pembangunan adalah ikhwal baik dalam setiap tindakan terutama terkait data luas lahan pertanian yang menjadi awal untuk menghitung data produksi, ekspor-impor dan distribusi sarana produksi. Untuk mendapatkan satu data terkait luas lahan pertanian, Kementerian Pertanian sudah melakukan berbagai upaya, termasuk melakukan kerjasama dengan kementerian Agraria Tata Ruang dan Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) hingga menurunkan langsung petugas ke lapangan untuk melakukan pengukuran lebih detail tentu tetap berkoordinasi dengan ATR/BPN.

Dengan adanya satu data konkrit, maka setiap kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah relatif tepat sasaran dan berdampak baik kepada masyarakat. Upaya pengakurasian data yang dilakukan SYL adalah babak baru dalam membangun pertanian kita, pasalnya, dalam beberapa dekade terakhir, perihal tersebut masih diabaikan.

Selain menuju single data, gebrakan yang patut diapresiasi dari mantan Gubernur Sulawesi Selatan tersebut adalah membangun Komando Strategis Pertanian (Kostratani). Program ini adalah upaya pemerintah membangun sektor pertanian dimulai dari tingkat kecamatan. Ada beberapa variabel penting dalam Kostratani yang sangat integratif yakni (a) Pusat Data dan informasi, (b) Pusat Gerakan Pembangunan Pertanian, (c) Pusat Pembelajaran dan Pelatihan Petani; (d) Pusat Konsultasi Agribisnis; dan (e) Pusat Pengembangan Jejaring Kemitraan.

Kelima komponen diatas saling terhubung dan memudahkan petani dalam mengelola pertanian mulai dari aspek budidaya hingga pasca panen serta pada subsektor pemasaran. Upaya SYL ini tak lain adalah dari pengalamannya ketika berhasil menjadikan Sulawesi Selatan sebagai lumbung pangan nasional berturut – turut sejak 2011 hingga 2014.

Mendekatkan Teknologi

Dalam Kostratani, semua kegiatan di awali dari kebutuhan masyarakat bawah (grass root) yang basisnya berada di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang ada di setiap kecamatan. Jika sebelumnya BPP hanya sebatas penyedia informasi teknologi kini fungsinya lebih besar bahkan disana akan disediakan ruang dan peralatan komunikasi secara langsung bagi Menteri Pertanian dengan penyuluh pertanian lapangan (PPL) tingkat kecamatan melalui teknologi teleconference untuk memantau langsung perkembangan kegiatan produksi, kondisi cuaca dan iklim, hingga dinamika pasar yang terjadi di lapangan. Melalui program Kostratani, peran BPP kembali direvitalisasi sebagai sumber informasi dan pengetahuhan lainnya (center of excellence) serta menyediakan pelayanan bagi pembangunan pertanian di tingkat kecamatan.

Tak hanya itu, dengan adanya Agriculture War Room (AWR) di kantor Pusat Kementerian Pertanian, maka Menteri Pertanian dan pejabat di Kementerian Pertanian juga dapat memantau langsung daerah yang terancam gagal panen akibat kekeringan, lokasi – lokasi yang bakal melakukan kegiatan panen, serta dapat dijadikan dasar untuk mengerahkan bantuan alat dan mesin pertanian. Dengan mengetahui kondisi tersebut maka kebijakan pemerintah diharapkan lebih tepat terutama dalam menentukan kouta impor pangan yang kerap melukai hati petani lokal.

Inilah yang dikatakan babak baru pembangunan pertanian, yang sebelumnya jarang dilakukan. Bagi petani dan pelaku pertanian, mereka kini dapat belajar di BPP mulai dari aspek hulu hingga hilir. Tentu kondisi ini akan dibantu (backup) oleh berbagai komponen lain seperti Dinas Pertanian Tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota yang menempatkan berbagai kegiatan di BPP, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan yang mem-BKO-kan petugas veteriner dan kesehatan hewan di setiap BPP, dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Badan Penelitian dan Pengembagan Pertanian (Balitbangtan) yang memberikan tugas khusus kepada penelitinya di BPP.

Diantara tupoksi BPTP dalam menyebarkan seluruh penelitinya ke seluruh BPP yang ada di setiap kecamatan adalah untuk membantu mengidentifikasi kebutuhan teknologi petani dan mendekatkan teknologi pertanian kepada penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang ada di BPP yang selanjutnya dapat digunakan oleh petani dalam mengelola usahatani mereka.

Berkaca pada pengalaman sebelumnya, banyak program dilahirkan dari atas (top down), namun dengan program Kostratani program pengembangan pertanian berbasis dari kebutuhan masyarakat bawah (bottom up). Apalagi dalam memasuki era revolusi industri pertanian 4.0, sektor pertanian dengan sendirinya juga menyiapkan diri menghadapi kondisi tersebut.

Agenda utama Pertanian 4.0 adalah transformasi digital di sektor pertanian, pengembangan dan pemanfaatan teknologi digital di bidang pertanian, yang mengerucut pada pertanian pintar (smart farming), pertanian terukur (precision farming) dan bioteknologi (gene editing).

Agenda diatas bukan perkara mudah untuk mewujudkannya. Tantangan pertanian 4.0 terutama dalam menuju ketahanan dan ketersediaan pangan nasional, yang dipengaruhi oleh beragam faktor seperti perubahan iklim, kelangkaan air, ketersediaan lahan dan regenerasi petani. Yang terakhir adalah masalah pelik dalam pembangunan pertanian kita dimasa akan datang karena mereka adalah penentu pembangunan pertanian negeri agraris ini.

Krisis petani yang dialami Indonesia adalah babak yang mengkhawatirkan. Betapa tidak, para pemuda pedesaan nyaris tak ada yang bercita-cita ingin menjadi petani bahkan alumni perguruan tinggi pertanian sekalipun kini banyak melirik profesi lain ketimbang menjadi petani. Hasil survei penulis di lapangan terungkap bahwa, banyak orang tua yang anaknya alumni perguruan tinggi jurusan pertanian tidak mau meraka kembali “berlumpur”. Ini adalah kondisi riil regenerasi petani. Ini adalah soal gengsi (prestise). Pertanian kita masih kurang prestisius dimata pemuda kita!

Oleh karena itu, untuk mengatasi semakin menurunnya angka pelaku pertanian, pemerintah menyiapkan berbagai program guna menarik minat petani muda (millenial) untuk berkecimpung langsung pada sektor pertanian khususnya mereka tamatan perguruan tinggi jurusan pertanian. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan banyak sekolah vokasi untuk mencetak petani-petani millienal sebagai pengganti petani yang telah uzur. Disamping juga memberikan kesempatan kepada mereka untuk pelatihan (training) dan magang di dalam dan luar negeri.

Progam training dan magang tersebut, misalnya yang dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh yang telah berhasil mengirimkan puluhan pemuda tani untuk menimba ilmu pertanian langsung di negeri Gajah Putih Thailand pada beberapa waktu yang lalu. Kita berharap pemuda millenial tersebut dapat menjadi inspirator bagi pemuda tani lainnya untuk membangun pertanian Aceh yang disebut Doni Monardo (Mantan Danjen Kopassus) sebagai “Emas Hijau”.

Akhirnya kita berharap, pernyataan Doni Monardo yang kini sebagai kepala BNPB itu menjadi babak baru bagi generasi muda kita untuk mempersepsikan kembali sektor pertanian sebagai langkah awal untuk berkecimpung di sektor pertanian dengan memanfaatkan berbagai terobosan di era revolusi industri 4.0 yang dianggap lebih berprestise, karena urusan pertanian

Penulis: Husaini Yusuf, S.P., M.Si Peneliti di BPTP Aceh, Alumnus Pascasarjana Sosiologi Pedesaan IPB University dan Pengurus Ikatan Keluarga Alumni Sosial Ekonomi Pertanian (IKASEP) Unsyiah. Email: [email protected]

Bagikan:

Tinggalkan Komentar

Berita Terkini