- 21 Desember 2021

Disiksa Sampai Mati: Penyelidikan Ungkap Kuburan Massal di Myanmar

Disiksa Sampai Mati: Penyelidikan Ungkap Kuburan Massal di Myanmar
Aksi Demostran Myanmar Memprotes Junta Militar, 16/3/2021. (Foto:Istimewa/News Analisa)   
Penulis
|
Editor

International, News Analisa – Militer Myanmar melakukan serangkaian pembunuhan massal warga sipil pada Juli, menyebabkan kematian sedikitnya 40 pria, demikian temuan investigasi BBC.

Para saksi mata dan penyintas menyampaikan, tentara, beberapa berusia sekitar 17 tahun, mengepung penduduk desa sebelum memisahkan para pria dan membunuh mereka. Tayangan video dan gambar insiden tersebut muncul untuk menunjukkan sebagian besar mereka yang dibunuh disiksa dulu dan kemudian dikubur dalam lubang yang dangkal.

Pembunuhan berlangsung pada Juli, dalam empat insiden terpisah di daerag Kani, yang merupakan daerah kekuatan oposisi di Distrik Sagaing, Myanmar Tengah.

Pembunuhan ini diperkirakan merupakan hukuman kolektif untuk serangan yang dilakukan kelompok oposisi yang menuntut dikembalikannnya demokrasi setelah militer melakukan kudeta pada 1 Februari lalu. Seorang juru bicara pemerintahan militer tidak menyangkal tuduhan tersebut.

Militer menghadapi perlawanan dari warga sipil sejak mereka melakukan kudeta, menyingkirkan pemerintahan yang terpilih secara demokratis yang dipimpin Aung San Suu Kyi.

BBC mewawancarai 11 saksi mata di Kani dan membandingkan pengakuan mereka dengan cuplikan video dan gambar ponsel yang dikumpulkan Myanmar Witness, NGO berbasis di Inggris yang menyelidiki pelanggaran JAM di negara Myanmar.

Pembunuhan terbesar berlangsung di desa Yin, di mana sedikitnya 14 pria disiksa atau dipukul sampai tewas dan jasad mereka dibuang ke selokan.

Para saksi mata di Yin – yang namanya disembunyikan untuk melindungi identitas mereka – menyampaikan kepada BBC, para pria diikat dengan tali dan disiksa sampai mati.

“Kami tidak tahan melihatnya jadi kami tetap menunduk, menangis,” kata salah seorang perempuan, yang saudara laki-lakinya, keponakan, dan iparnya dibunuh.

“Kami memohon mereka jangan melakukan itu. Mereka tidak peduli. Mereka menanyakan para perempuan, ‘Apakah suami kalian ada di antara mereka? Jika ada, beri penghormatan terakhir’.”

Seorang pria yang kabur dari pembunuhan itu mengatakan para tentara melakukan penyiksaan mengerikan selama beberapa jam terhadap para pria tersebut sebelum mereka meninggal.

“Mereka diikat, dipukul dengan batu dan pantat senapan dan menyiksa sepanjang hari,” kata penyintas tersebut, dikutip dari BBC, Senin (20/12).

“Beberapa tentara terlihat muda, mungkin 17 atau 18, tapi beberapa sangat tua. Ada juga perempuan di antara mereka.”

Di dekat desa Zee Bin Dwin, pada akhir Juli, 12 jasad yang dimutilasi ditemukan terkubur di kuburan massal dangkal, termasuk satu jasad kecil, kemungkinan seorang anak, dan jasad seorang disabilitas. Beberapa dari mereka dimutilasi.

Jasad seorang pria yang berusia 60-an tahun ditemukan terikat di sebuah pohon plum di sekitarnya. Tayangan mayatnya, yang dilihat BBC, menunjukkan tanda jelas penyiksaan. Keluarganya mengatakan, putra dan cucunya melarikan diri ketika militer memasuki desa, tapi dia tetap tinggal, meyakini usia tuanya akan melindunginya dari penyiksaan.

Pembunuhan ini tampaknya menjadi hukuman kolektif atas serangan terhadap militer yang dilakukan kelompok milisi sipil di daerah tersebut, yang menuntut demokrasi dikembalikan. Pertempuran antara militer dan cabang lokal Pasukan Pertahanan Rakyat – nama kolektif kelompok milisi sipil – meningkat di daerah tersebut beberapa bulan sebelum pembunuhan massal, termasuk pertempuran dekat Zee Bin Dwin.

Jelas dari bukti visual dan testimoni yang dikumpulkan BBC bahwa para pria ditargetkan secara khusus, sesuai dengan pola yang diobservasi di seluruh Myanmar dalam beberapa bulan terakhir di mana penduduk desa pria menghadapi hukuman kolektif setelah terjadi bentrok antara Pasukan Pertahanan Rakyat dan militer.

Para keluarga yang terbunuh bersikeras para pria tersebut tidak terlibat dalam serangan terhadap militer. Seorang perempuan yang kehilangan kakaknya dalam pembantaian Yin mengatakan dia memohon kepada para tentara, mengatakan kakaknya bahkan tidak bisa memegang ketapel.

Tentara lalu menjawab seperti ditutupkan perempuan tersebut: “Jangan katakan apapun. Kami lelah. Kami akan membunuhmu.”

Jurnalis asing dilarang meliput di Myanmar sejak kudeta, dan sebagian besar media non pemerintah ditutup, sehingga meliput di lapangan sangat tidak mungkin.

BBC mengonfirmasi tuduhan pembunuhan massal ini kepada Wakil Menteri Informasi Myanmar yang juga juru bicara militer, Jenderal Zaw Min Tun. Dia tidak menyangkal tentara melakukan pembunuhan massal.

“Itu bisa terjadi,” ujarnya.

“Ketika mereka memperlakukan kami sebagai musuh, kami punya hak untuk membela diri.”

PBB saat ini sedang menyelidiki dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan militer Myanmar.(*)

Sumber:merdeka.com


 

Bagikan:

Tinggalkan Komentar

Berita Terkini