- 7 September 2021

Darud Donya Dukung Warga Gampong Pande Selamatkan Makam Raja dan Ulama Kesultanan Aceh

Darud Donya Dukung Warga Gampong Pande Selamatkan Makam Raja dan Ulama Kesultanan Aceh
Peta Bandar Aceh Darussalam abad ke-17. Dirk de Jong/Atlas of Mutual Heritage  
Penulis
|
Editor

Banda Aceh, News Analisa – Pemimpin Darud Donya Cut Putri mendukung penuh warga Gampong Pande Banda Aceh, yang terus berjuang menyelamatkan Makam para Raja dan Ulama di Kawasan Situs Sejarah Istana Darul Makmur Kuta Farushah Pindi Gampong Pande.

Seperti diketahui Warga Gampong Pande, kembali menyuarakan penolakan mereka terhadap kelanjutan pembangunan proyek Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL), saat Anggota DPR Aceh, Teuku Irwan Djohan, melakukan reses di Gampong Pande pada Senin(30/8/2021)

Dalam reses tersebut, warga meminta agar DPRA dan seluruh masyarakat untuk ikut menyuarakan penghentian proyek IPAL Gampong Pande, yang dinilai dapat merusak dan menghilangkan jejak-jejak peradaban Islam, dan menghapus identitas sejarah Aceh.

Lokasi IPAL tersebut dikenal sebagai kawasan bersejarah Istana Darul Makmur Kuta Farushah Pindi, yang merupakan pusat sejarah peradaban Islam di Asia Tenggara. Banyak makam para Raja dan Ulama Aceh masa lalu yang terkubur di area proyek IPAL, terdapat juga tapak Masjid Kuno tertua di Banda Aceh yang bangunannya masih bisa dilihat di kawasan IPAL hingga kini.

“Sungguh Ironis dan tragis, kawasan bersejarah Titik Nol Kesultanan Aceh Darussalam, berisi ribuan makam para Raja dan Ulama, malah dijadikan pusat pembuangan tinja manusia oleh Pemerintah Kota Banda Aceh”, kata Cut Putri Pemimpin Darud Donya.

Pemimpin Darud Donya menjelaskan bahwa sejak masa Kesultanan Aceh, kawasan makam para Raja dan Ulama sangat dihormati sesuai dengan adat dan kearifan lokal Aceh.

Pada era Kesultanan Aceh Darussalam para Sultan yang meninggal dipanggil Marhom atau Meureuhom.

Sultan Iskandar Muda setelah wafat bergelar Poteumeureuhom Meukuta Alam. Demikian juga Sultan Iskandar Tsani setelah wafat dipanggil Meureuhom Darussalam.

Ketika para Raja dan Ulama wafat, maka dimakamkan diatas tanah tinggi. Kemudian dibuatlah diwai atau pagar makam dari Batu Karang untuk melindungi makam.

Sebab dalam adat Aceh sangat pantang melangkahi makam, apalagi menghancurkan makam terutama makam para Raja dan Ulama penyebar Islam.

Dalam surat menyuratnya, para Raja tetap menyebutkan nama Raja-Raja yang telah wafat, sehingga di Aceh ada cap Sikeureung yang memuat nama Sultan berkuasa, dan juga memuat nama delapan Sultan terdahulu, yang dikenal dengan nama Cap Sikeureung.

Makam Para Raja Aceh di buat dalam Diwai yang seperti Benteng, kemudian dikenal dengan Kandhang. Sehingga ada Kandhang 12 makam Sultan Ali Mughayat Syah dan anak cucunya, kemudian Kandang Meuh tempat pemakaman Sultan Iskandar Muda, Kandhang Perak tempat pemakaman Sultan Iskandar Tsani, Kandang Blang tempat pemakaman Sultan Sayyidil Mukammil di Merduati, Kandang Poteu Jeumaloy Makam Sultan Sayed Jamalul Alam Badrul Munir Al Jamalullail, dan lain-lain.

Pada tahun 1511 Portugis menguasai Malaka dan menghancurkan Makam para Raja dan Ulama. Akhirnya Kesultanan Aceh Darussalam menyerang Malaka untuk mengusir Portugis.

Pada tahun 1874 Kafir Belanda menguasai Istana Aceh. Karena amarah dan dendam kepada Bangsa Aceh yang teguh memegang Islam, maka makam para Raja dan Ulama dihancurkan oleh Kaphe Belanda untuk memadamkan semangat Islam di Aceh. Kemarahan Bangsa Aceh amat besar, dan perang pun semakin membara.

Maka oleh Ulama Aceh diucapkan perkataan ” Bek Ta meurakan ngen Hulanda Kaphe, musoh sabee meupusaka”, artinya “Jangan berteman dengan Belanda Kafir musuh abadi hingga akhir masa”.

Penghancuran Makam para Raja dan Ulama terus dilakukan oleh Belanda untuk memusnahkan makam para Raja dan Ulama. Kemudian program itu diteruskan oleh anak cucu dan antek-antek Belanda hingga kini, yang ingin menghapus sejarah kegemilangan Kerajaan Aceh dan kejayaan Islam.(*)


 

Bagikan:

Tinggalkan Komentar

Berita Terkini

Peserta Tour de Aceh Etape I Mulai Latihan Adaptasi

Peserta Tour de Aceh Etape I Mulai Latihan Adaptasi

Advertorial   Berita   Daerah   Headline   Lifestyle   Nasional   News   Trend
Sebanyak 110 Orang Disuntik Pada Vaksinasi Covid-19 Hari Pertama Usai Idul Fitri

Sebanyak 110 Orang Disuntik Pada Vaksinasi Covid-19 Hari Pertama Usai Idul Fitri

Berita   Daerah   Kesehatan   Nasional   News   Trend
Gubernur Aceh Nova Iriansyah Ikut Rakernas APPSI di Bali

Gubernur Aceh Nova Iriansyah Ikut Rakernas APPSI di Bali

Berita   Daerah   Headline   Nasional   News   Trend
Pemerintah Aceh Teken Kontrak 157 Paket Proyek APBA 2022 Tahap ke-3

Pemerintah Aceh Teken Kontrak 157 Paket Proyek APBA 2022 Tahap ke-3

Berita   Daerah   Epaper   Nasional   News   Trend
Sekda Tinjau UPTD Rumah Kemasan Aceh

Sekda Tinjau UPTD Rumah Kemasan Aceh

Berita   Daerah   Headline   Nasional   News   Trend
Hari Pertama Kerja Pasca Cuti Lebaran, Tingkat Kehadiran ASN Aceh Hampir 100 Persen

Hari Pertama Kerja Pasca Cuti Lebaran, Tingkat Kehadiran ASN Aceh Hampir 100 Persen

Advertorial   Berita   Daerah   Headline   Nasional   News   Trend
Pemerintah Gampong Pie Santuni Anak Yatim dan Santri Dayah

Pemerintah Gampong Pie Santuni Anak Yatim dan Santri Dayah

Berita   Daerah   Headline   Nasional   News   Trend
Soal Perlambat IJOP MUQ Bustanul Ulum, Kepala Kemenag Langsa Berpotensi Pidana

Soal Perlambat IJOP MUQ Bustanul Ulum, Kepala Kemenag Langsa Berpotensi Pidana

Berita   Daerah   Headline   Hukum   Nasional   News   Trend
DPP KAMPUD Serahkan Santunan untuk Korban Kecelakaan Perlintasan Kereta Api

DPP KAMPUD Serahkan Santunan untuk Korban Kecelakaan Perlintasan Kereta Api

Berita   Daerah   Headline   Hukum   Nasional   News   Trend
Tingkatkan Silaturahmi, Partai Golkar Kota Langsa Buka Puasa Bersama

Tingkatkan Silaturahmi, Partai Golkar Kota Langsa Buka Puasa Bersama

Berita   Daerah   Headline   Nasional   News   Politik   Trend