www.newsanalisa.com - November 14, 2020

Cara Nabi Menyelesaikan Masalah

Cara Nabi Menyelesaikan Masalah
Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA  Dukumen Foto News Analisa
Penulis
|
Editor

Oleh Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL, MA

MUQADDIMAH

Sebagai manusia, Muhammad bin Abdullah memiliki sejumlah permasalahan dalam hidup dan kehidupannya. Masalah-masalah tersebut diselesaikan beliau secara pribadi seperti risau dengan kondisi kedhaliman di kota Makkah lalu beliau berkhalwat di Gua Hirak. Demikian juga dengan persoalan ekonomi yang beliau sendiri menyelesaikannya dengan menggunakan modal Khadijah untuk berniaga. Namun ketika beliau diangkat menjadi Rasul Allah maka ada permasalahan yang diselesaikan sendiri dan ada pula yang mengikut arah wahyu dari Allah. Yang beliau selesaikan sendiri seperti menyuruh para shahabat untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia) dalam dua kali hijrah, membuka pasar rakyat di Madinah, mewujudkan Piagam Madinah dan lainnya. Sementara yang mengikut arah dan perintah Allah melalui wahyu seperti berhijrah yang ditemani Abubakar ke Yatsrib, menyerbu kediaman Yahudi Bani Quraidhah, dan lainnya.

Semua itu dilakukan Rasulullah SAW untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapinya baik atas dasar kepentingan pribadi, keluarga, kaum, golongan maupun atas dasar keperluan Islam. Artinya dalam kehidupan beliau ada persoalan private berkaitan dengan kepribadian dan kekeluargaan dan ada persoalan general yang berkenaan dengan persoalan agama dan ummah. Prihal semacam itu juga dimiliki oleh setiap muslim dari zaman ke zaman sampai kezaman kini. Perbedaannya adalah; Nabi cenderung mengutamakan dan mementingkan keperluan agama dan ummah ketimbang keperluan pribadi dan keluarga, sementara manusia hari ini cenderung lebih mementinggkan kepentingan pribadi, keluarga, partai, kaum, dan golongan ketimbang agama dan bangsa.

Efek dari perbedaan tersebutlah yang menjadi Islam layu dan ummat Islam mundur dalam segala dimensi kehidupan sehingga banyak wilayah yang menempatkan ummat Islam menjadi tetamu di negeri sendiri, sementara kafir menjadi tuan di negeri muslim. Manakala ummat Islam masih doyan dengan kehidupan dunia yang bersifat fatamorgana selama itu pula mereka tidak sanggup bangkit dan tidak mampu mengalahkan kafir musuh Allah dan musuh ummat Islam sendiri yang sudah berkarat menjajah ummat Islam.

CONTOH KASUS

Ada beberapa cara nabi menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan yang tepat dan jitu sehingga ketika ada kekeliruan terkesan kekeliruan itu milik bersama bukan kesalahan Nabi sendiri, demikian pula manakala keputusannya tepat menjadi keputusan bersama kecuali dalam kasus tertentu yang tidak sanggup dibaca oleh para shahabat. Kasus pertama adalah; Nabi pernah meminta pendapat dan bermusyawarah dengan para shahabat senior seperti yang terjadi dalam kasus tawanan perang Badar. Dalam kasus ini nabi bermusyawarah dengan meminta pendapat para senior seperti Abubakar dan Umar untuk menjadi landasan hukum pengambilan keputusan terhadap sejumlah tawanan perang Badar yang berhadapan antara membunuh atau melepaskan mereka karena tidak ada penjara pada masa itu. Dalam kasus stersebut Abubakar berpendapat mereka dilepaskan dengan konpensasinya membayar tebusan, sementara Umar berkeras tawanan tersebut harus dibunuh semuanya.

Dalam masa itu Nabi cenderung kepada pendapat Abubakar dan melepaskan mereka dengan tebusan yang sudah ditetapkan. Namun belum semuanya dilepaskan Allah menegur RasulNya dengan ayat 67-69 dalam surat al-Anfal:

“Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.- Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.- Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Baca Juga:  Muslim Pembobol Gawang Sendiri

Peristiwa tersebut betul-betul memukul mental spiritual Nabi dan Abubakar karena merasa bersalah dalam bersikap sehingga keduanya menangis terisak-isak dan Nabi bersabda: sekiranya pada waktu ini datangnya bala Allah maka Umarlah yang akan selamat dan kita yang lain akan binasa semuanya. Walaubagaimanapun, keputusan nabi untuk menerima tebusan tawanan tersebut bukanlah berawal dari Beliau melainkan asal idenya dari Abubakar sehingga terkesan bahwa Nabi tidak otoriter. Ketika teguran datang Nabi segera merubah keputusannya dengan membunuh semua tawanan tersebut. Demikianlah sikap transparan Nabi dalam menjalankan tugas kenabian dan sekaligus tugas kemanusiaan yang dibebankan kepadaNya, suatu sikap yang sangat layak diikuti oleh ummat Islam sedunia.

Kasus kedua; Nabi meminta dan atau mengikuti pendapat kaum professional dalam menuntaskan sesuatu persoalan. Contoh dalam kasus ini adalah Nabi menerima best idea dari shahabatnya Salman Al-Farisi yang mengusulkan agar ummat Islam menggali parit di sekitar Madinah untuk menghambat serbuan kafir Quraisy dalam perang Ahzab (perang Khandaq). Hasil dari perang tersebut memenangkan ummat Islam yang diduga besar pengaruh parit yang digali sebelum perang terjadi. Dalam kasus ini Nabi tidak pernah merasa rendah dengan menerima ide cemerlang seorang Salman dan Nabi tetap berada pada posisi yang objektif dalam bersikap dan bertindak. Sesetengah pemimpin hari ini paling susah menerima pendapat rakan walaupun pendapat itu dapat menguntungkan perjuangan sehingga dengan sikap tersebut perjuangan menjadi tenggelam. Contoh lain dalam kasus yang sama adalah manakala dalam satu perjalanan Nabi berhenti di bawah sebatang pohon dengan rencana beristirahat agak lama, tiba-tiba Ibnu Munzir bertanya: ya Rasulullah! Apakan berhenti di sini atas arahan wahyu atau inisiatif Nabi sendiri? Beliau menjawab: ini inisiatif saya sendiri, lalu Ibnu Munzir memberikan ide bagusnya: sebaiknya kita berhenti kedepan lagi karena di sana ada sumber mata air dan di bawahnya ada beberapa penampung air dari sumber tersebut, manakala musuh berada di bawah sana kita dapat menguasai air dan bisa mengeruhkan air dalam upaya menghalau musuh. Dengan senang hati Nabi menerima tawaran tersebut karena itu tawaran paling brilliant.

Dalam kasus ketiga Nabi SAW mengadakan musyawarah sebelum pecah perang Uhud, dalam musyawarah tersebut sebahagian shahabat menginginkan pasukan muslim keluar kota Madinah menuju bukit Uhud untuk menghadang dan memerangi kaum kafir dengan alasan juga untuk menghindari kaum wanita dan anak-anak. Dalam kesempatan tersebut Nabi sendiri lebih cenderung kepada bertahan di kota agar lebih memudahkan menguasai medan, namun karena yang berpendapat menuju ke bukit Uhud lebih mayoritas maka Nabi mengikuti pendapat orang banyak walaupun perang tersebut kemudian merugikan Ummat Islam. Poin penting yang tertera dalam kasus ini adalah walaupun seorang Nabi dan Rasul, baginda tidak pernah memaksa kehendak agar orang lain wajib ikut keinginan dan keputusan beliau. Dalam kasus ini juga wujud sistem musyawarah yang sangat normat dan objektif sebagai media penyelesaian persoalan baik yang sudah berlalu maupun yang akan dihadapi. Musyawarah itu menjadi solusi jitu penyelesaian sesuatu masalah yang dihadapi, mematuhi hasil musyawarah pula menjadi sebuah kewajiban dan keharusan dalam sesuatu perjuangan. Mengkhianati hasil musyawarah adalah tindakan munafik yang dapat menghancurkan perjuangan Islam.

Baca Juga:  Adagium; Uleue Beumate Ranteng Bek Patah

Dalam kasus keempat, menjadi satu-satunya prinsip Nabi berkeras dengan sikap, pendapat dan keinginan sendiri sebagaimana yang tergambar dalam kasus Perjanjian Hudaybiyah. Pada masa tersebut terjadi perjanjian antara pihak muslimin dengan pihak kafir Quraisy yang diwakili oleh Suhail bin ‘Amr. Ketikia itu Nabi tidak menghiraukan pendapat para shahabat terutama sekali Umar dan Ali baik dalam menyusun naskah perjanjian maupun isi perjanjian itu sendiri yang terkesan merugikan Islam. Ketika perjanjian dimulai Nabi memulainya dengan Bismillahirrahmanirrahim, segera saja Suhail membantah dan menolaknya dengan alasan dia dan kaumnya tidak mengenal Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Lalu Nabi menyetujui usulan Sahal dengan menulis Bismikallahumma sahaja dan beliau meminta Ali untuk menulisnya. Tatkala masuk kedalam isi perjanjian Nabi merancang kalimat begini: Ini adalah perjanjian antara Muhammad Rasulullah SAW dengan Suhail bin ‘Amr, kembali Suhail keberatan dan meminta Nabi untuk menghapus kata Rasulullah karena menurutnya apabila ia mengaku Muhammad sebagai Rasul Allah maka tidak perlu perjanjian itu dibuat, kembali Nabi meminta Ali menghapusnya dan menulis Muhammad bin Abdullah sahaja.

Para shahabat sudah sangat marah dengan ulah Suhail dan Ali bin Abi Thalib sudah tidak sanggup menulis lagi isi perjanjian tersebut karena merasa sudah dirugikan Islam oleh seorang Suhail. Dalam kondisi memanas semacam itu Umar menanyakan langsung persoalan tersebut kepada Nabi dan Nabi menjawab: “Saya adalah hamba Allah dan Rasulnya. Saya tidak akan melanggar perintahnya, dan Allah tidak akan mungkin menyesatkan saya”. Jawaban Nabi tersebut membuat Umar terdiam dan para shahabat yang lain juga tertunduk.

Di antara isi perjanjian yang dianggap merugikan ummat Islam adalah kandungan pasal 2 yang menyatakan: Jika orang Makkah melarikan diri ke Madinah tanpa seizin pemimpinnya, Muhammad harus mengembalikannya ke Makkah. Sebaliknya, bila orang Madinah lari ke Makkah tidak ada kewajiban orang Makkah untuk mengembalikannya kepada Muhammad. Di balik kekecewaan para shahabat dengan sikap Nabi yang menurut para shahabat sudah merugikan Islam, Allah berikan pelajaran penting kepada semua mereka manakala ada sejumlah orang dari Makkah bergabung ke Madinah lalu tidak diterima oleh Nabi karena berpegang erat kepada isi perjanjian, tiba-tiba para pelarian tersebut melanglang buana antara Makkah dan Madinah. Dalam kesempatan sangat genting tersebut kelompok tersebut semakin hari semakin bertambah banyak dan mereka menghalang perniagaan kaum Quraisy yang berakhir dengan perlawanan terhada Quraisy.

Dari situlah mulai terkuak rahasia Allah kalau sikap keras Nabi dalam kesepakatan isi perjanjian dengan Suhail tadi mengandung hikmah besar yang tidak sanggup diprediksikan para shahabat sebelumnya. Akhirnya senjata makan tuan bagi kafir Quraisy karena mereka mengancam bunuh orang-orang yang lari dari Makkah menuju Madinah. Sementara Nabi sendiri menolak mereka karena istiqamah dengan isi perjanjian Hudaybiyah tersebut. Dari sini dapat disimpulkan bahwa sikap keras seorang pemimpin itu tidak selamanya menjadi dan menyatu dengan sikap ego, angkuh dan arrogan, tetapi seorang pemimpin yang berwawasan tinggi terkadang dapat menjangkau kemungkinan yang akan terjadi di masa depan sehingga ia berkeras sekeras-kerasnya seperti kerasnya Nabi terhadap kekecewaan para shahabat dalam kasus perjanjian Hudaybiyah tersebut.

Baca Juga:  Rangga Pahlawan Pembela (Ibu) Wanita

PELAJARAN BAGI UMMAT ISLAM

Dari empat kasus sikap dan cara penyelesaian masalah yang dilalui Nabi dalam hidupnya tersebbut terdapat sejumlah pelajaran yang dapat dijadikan pedoman dan pegangan dalam perjuangan hidup ummat Islam hari ini.

Pertama, pemimpin ummat Islam itu harus orang istiqamah dengan Islam yang berjuang semata-mata untuk Islam dan tidak mengutamaka kepentingan diri, keluarga, kaum dan golongan.

Kedua, seorang pemimpin Islam itu harus selalu bermusyawarah dalam semua urusan ummat Islam baik yang sudah berlalu maupun yang akan terjadi sehingga hasil yang terjadi menjadi tanggung jawab bersama.

Ketiga, keputusan musyawarah harus dijalankan dengan seksama dan hasil dari kejadian di lapangan harus diterima dengan lapang dada tanpa menyalahkan siapa-siapa. Ketika perang Uhud menguntungkan kafir Quraisy Nabi tidak pernah menyalahkan para shahabat karena tidak menerima pendapat beliau dalam musyawarah sebelumnya.

Keempat, baik pemimpin maupun rakyat harus selalu menghargai dan memuliakan ide cemerlang dari para pakar karena ide cemerlang tersebut cenderung mambawa kemenangan seperti usulan Salman Al-Fari untuk menggali parit dalam perang Khandaq/perang Ahzab.

Kelima, semua pihak selalu menghargai pendapat mayoritas dalam musyawarah dan rela serta siap menerima resiko yang datang sebagai efek dari hasil musyawarah tersebut seperti Nabi menerima kegagalan perang Uhud, karena itu semua ketentuan Allah yang Maha Kuasa.

Keenam, pemimpin Islam adalah sosok yang diamanahkan tanggung jawab besar untuk kepentingan Islam dan ummah, karenanya seorang pemimpin yang arif itu adalah orang yang mampu membaca tanda-tanda zaman dan dengan itu ia dapat bersikap tegas. Manakala ia sudah bersikap tegas maka rakyat harus ikut terhadap ketegasannya sebagaimna para shahabat ikut ketegasan Nabi dalam kasus Perjanjian Hudaybiyah.

Ketujuh, baik pemimpin maupun rakyat dalam Islam wajib menjalankan perintah Allah dengan serius, sungguh-sungguh, tekun, khusyuk dan bersahaja. Sebaliknya wajib meninggalkan larangan Allah sekecil apapun ia adanya.

Semoga sahaja perjuangan Islam dan Ummat Islam kedepan tidak lagi menemui kegagalan manakala kita berpegang kepada amalan Rasulullah SAW, minimal sebagaimana yang tergambar dalam tulisan ini. Ummat Islam harus sadar kalau musuh-musuh Allah senantiasa menghadu muslim dengan muslim, menghadu pula muslim dengan kafir, manakala ummat Islam gagal memahami skenario tersebut maka kita akan abaikan amalan Nabi tersebut. Penuh harapan kita kebijakan pemimpin Islam menjadi rahmat bagi Islam dan ummah Islam, bukan madu bagi kafir, komunis dan kaum sepilis. Kita juga berharap seluruh ummat Islam sadar sesadar-sadarnya kalau kita sekarang menjadi tetamu di negeri sendiri, mari berjuang untuk memposisikan diri sebagai pemilik dan tuan di negeri sendiri, sebagai peneroka dan pengislam negeri mereka sebagaimana Nabi mengIslamkan Yatsrib dahulu kala. Nabi mampu merampas Yatsrib dari tiga kuasa besar dunia tatkala itu (Yahudi Bani Qinuqak, yahudi Bani Nadir, dan Yahudi Bani Quraidhah) sehingga menjadi negara Islam Madinah, kenapa pulak pemimpin Islam dan ummai Islam hari ini memasukkan goal kegawang sendiri dengan memberikan kekuasaan kepada kafir, tunduk patuh kepada kafir, dan menyisihkan muslim sebagai saudara seiman dan seagama dengan mengangkat kafir sebagai pemimpin dan kakitangannya?

Penulis adalah Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh dan Dosen Siyasah pada Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh

diadanna@yahoo.com

Bagikan:

Tinggalkan Komentar

Berita Terkini

Pemerintah Tambah Tenaga Kontrak di Dayah Perbatasan Safinatussalamah Aceh Singkil

Pemerintah Tambah Tenaga Kontrak di Dayah Perbatasan Safinatussalamah Aceh Singkil

Berita   Daerah   Headline   Nasional   News   Pendidikan   Trend
Akhiri Perawatan di RSUCM Nova Jalani Perawatan di RSUDZA

Akhiri Perawatan di RSUCM Nova Jalani Perawatan di RSUDZA

Berita   Daerah   Headline   Kesehatan   Trend
Nova Pimpin Rapat Percepatan Realisasi APBA 2021

Nova Pimpin Rapat Percepatan Realisasi APBA 2021

Berita   Daerah   Headline   Kesehatan   Nasional   News   Politik   Trend
Hotman Paris dan Para Artis Kecam Prilaku Satpol PP Aceh yang Usir Anjing Hingga Mati

Hotman Paris dan Para Artis Kecam Prilaku Satpol PP Aceh yang Usir Anjing Hingga Mati

Berita   Daerah   Headline   Nasional   News   Trend   Wisata
Bunuh Anjing Demi Wisata Halal, Dunia Internasional Kecam Aceh

Bunuh Anjing Demi Wisata Halal, Dunia Internasional Kecam Aceh

Berita   Daerah   Headline   Hukum   Lifestyle   Nasional   News   Trend
Ciptakan Lingkungan Sejuk, Dinas DKP Aceh Gelar Gotong Royong dan Tanam Sejumlah Pohon

Ciptakan Lingkungan Sejuk, Dinas DKP Aceh Gelar Gotong Royong dan Tanam Sejumlah Pohon

Berita   Daerah   Headline   Kesehatan   Nasional   News   Trend
H. Irmawan: VUB Badan Litbang Pertanian Kunci Peningkatan Produksi Padi Aceh Besar

H. Irmawan: VUB Badan Litbang Pertanian Kunci Peningkatan Produksi Padi Aceh Besar

Berita   Daerah   Headline   Nasional   News   Trend
Disdik Aceh dan Kemendikbud Ristek Gelar Bimtek E-Pembelajaran Berbasis TV 

Disdik Aceh dan Kemendikbud Ristek Gelar Bimtek E-Pembelajaran Berbasis TV 

Berita   Daerah   Headline   Kesehatan   Nasional   News   Pendidikan   Trend
Perangi Narkoba, Pelajar SMA Ikuti Diklat Konselor Sebaya

Perangi Narkoba, Pelajar SMA Ikuti Diklat Konselor Sebaya

Berita   Daerah   News   Pendidikan   Trend
Menyambut Hut ke 57, Partai Golkar Abdya Bantu Warga Kurang Mampu

Menyambut Hut ke 57, Partai Golkar Abdya Bantu Warga Kurang Mampu

Berita   Daerah   Headline   Nasional   News   Politik